One week left.
Insyaallah next week, we will reach Ied Fitri.
Should I be happy? Or should I be sad?
Thank you ya Rabb for everything you have given to us.
Thank you for every breath you still give it to us.
Thank you...
Saat sudah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, rasanya waktu menggelinding semakin cepat.
Rasanya masih ingin berlama-lama bermuhasabah selama bulan Ramadhan. Sayangnya, kadang kita masi terlena dan menuruti rasa kantuk daripada membasahi bibir ini dengan ayat-ayat suci Alquran. Sayangnya, kadang mata ini masih lebih suka melihat acara-acara televisi daripada mengalirkan air mata karena rindu pada-Nya, mendekat pada-Nya.
Ramadhan is gonna leave us. But, Allah will never gonna leave us...no matter what.
Lead us to be a much better person, Ya Rahman, Ya Rahiim...
Lead us to your sincere light and be a great khalifa in your land, Ya 'Aliim...
Aamiin...
Tampilkan postingan dengan label Contemplation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contemplation. Tampilkan semua postingan
Minggu, Agustus 12, 2012
Selasa, Juli 17, 2012
Berbagi Status
[dosen
saya yang satu ini selalu rajin membuat status Facebook yang sangat
panjang. sebagian besar sangat inspiratif, termasuk yang satu ini, yang
rasanya bener-bener makjleb, hehe]
kau masih jobless, nyebar lamaran,
menunggu panggilan?
kau naksir orang, lagi pendekatan dan mengharap jawaban?
kau hanya karyawan biasa, tak pernah mendapat promosi dan pengakuan?
Lebih dari semua itu, kau sudah berupaya keras, berdoa pagi-petang & siang-malam, tapi harapanmu tak kunjung datang. Kenapa? Sebab masih ada yang kurang.
Lihat saja cara kau memperlakukan dirimu sendiri. Matahari sudah tinggi tapi kau masih malas-malasan, menimang cangkir kopi. Atau kau yg perempuan masih acak2an dgn daster kumal, rambut awut-awutan. Kau yg menunggu jawaban cintamu sepanjang hari berkubang dalam kegalauan, ngeri jika cintamu dicampakkan. Sedikit pun tak terpikir olehmu untuk berlatih, menyiapkan diri menyambut kemenangan. Sikapmu memuakkan: dari cara dudukmu yg lesu, langkah yg gontai dan wajah yg memelas orang tahu: kau manusia minim prospek. Bukannya tak punya, tapi prospek itu kau kubur sendiri. Ayolah bangkit, sibukkan diri, tebar senyuman, pancarkan pesonamu, bersikaplah seolah-olah kau sudah punya pekerjaan atau posisi yg diperhitungkan. Isi harimu dgn sesuatu yg positif dan signifikan, memburu informasi, mencari kenalan, menjalin pertemanan. Aura positif yg kau tebarkan membuat orang terkesan. Mungkin kau menyebut ini berkhayal atau sinting-- saya menyebutnya 'mental preparation.' Persiapan mental, demi menjadi orang yg dihargai dan diperhitungkan. Inilah faktor pembeda yg amat menentukan: tak sedikit orang berpotensi ditolak lamarannya krn calon atasan tak suka melihat sikap, bahasa tubuh dan air mukanya yg memelas, apatis dan pesimistik. Kau ingin dihormati? Mulailah dgn menghormati diri sendiri: dgn bersolek sewajarnya, dgn mematut-matut diri--bukannya narsis atau lebay, tapi demi menyejukkan mata orang yg kau temui.
Para aktor Hollywood pememang Oscar suka menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk latihan dan menghayati peran dalam film yg akan mrk bintangi. Mereka berlatih jadi petinju, sopir taksi, eksekutif, atau politisi. Berlatih sepenuh hati agar peranan itu merasuk ke pikiran bawah sadarnya. Dan hasilnya tak pernah sia-sia. Mengapa tak kau tirukan kesungguhan mereka? Siapkan peran yg kau inginkan: jadi pegawai di perusahaan? Jadi karyawan yg diperhitungkan? Jadi kekasih yg dibanggakan? Latihlah dirimu, persiapkan kememanganmu.
Senyuman manis, sikap simpatik, jabat tangan erat, lagak dan perangai yg optimistis siap menyambut datangnya peluang. Ibarat sekeping logam, kau harus rajin memoles-moles diri dgn latihan rutin dan berkelanjutan agar dirimu menjadi magnet dengan kekuatan yg dahsyat: rejeki, pertemanan, simpati dan bantuan akan berdatangan karena daya tarikmu itu.
kau naksir orang, lagi pendekatan dan mengharap jawaban?
kau hanya karyawan biasa, tak pernah mendapat promosi dan pengakuan?
Lebih dari semua itu, kau sudah berupaya keras, berdoa pagi-petang & siang-malam, tapi harapanmu tak kunjung datang. Kenapa? Sebab masih ada yang kurang.
Lihat saja cara kau memperlakukan dirimu sendiri. Matahari sudah tinggi tapi kau masih malas-malasan, menimang cangkir kopi. Atau kau yg perempuan masih acak2an dgn daster kumal, rambut awut-awutan. Kau yg menunggu jawaban cintamu sepanjang hari berkubang dalam kegalauan, ngeri jika cintamu dicampakkan. Sedikit pun tak terpikir olehmu untuk berlatih, menyiapkan diri menyambut kemenangan. Sikapmu memuakkan: dari cara dudukmu yg lesu, langkah yg gontai dan wajah yg memelas orang tahu: kau manusia minim prospek. Bukannya tak punya, tapi prospek itu kau kubur sendiri. Ayolah bangkit, sibukkan diri, tebar senyuman, pancarkan pesonamu, bersikaplah seolah-olah kau sudah punya pekerjaan atau posisi yg diperhitungkan. Isi harimu dgn sesuatu yg positif dan signifikan, memburu informasi, mencari kenalan, menjalin pertemanan. Aura positif yg kau tebarkan membuat orang terkesan. Mungkin kau menyebut ini berkhayal atau sinting-- saya menyebutnya 'mental preparation.' Persiapan mental, demi menjadi orang yg dihargai dan diperhitungkan. Inilah faktor pembeda yg amat menentukan: tak sedikit orang berpotensi ditolak lamarannya krn calon atasan tak suka melihat sikap, bahasa tubuh dan air mukanya yg memelas, apatis dan pesimistik. Kau ingin dihormati? Mulailah dgn menghormati diri sendiri: dgn bersolek sewajarnya, dgn mematut-matut diri--bukannya narsis atau lebay, tapi demi menyejukkan mata orang yg kau temui.
Para aktor Hollywood pememang Oscar suka menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk latihan dan menghayati peran dalam film yg akan mrk bintangi. Mereka berlatih jadi petinju, sopir taksi, eksekutif, atau politisi. Berlatih sepenuh hati agar peranan itu merasuk ke pikiran bawah sadarnya. Dan hasilnya tak pernah sia-sia. Mengapa tak kau tirukan kesungguhan mereka? Siapkan peran yg kau inginkan: jadi pegawai di perusahaan? Jadi karyawan yg diperhitungkan? Jadi kekasih yg dibanggakan? Latihlah dirimu, persiapkan kememanganmu.
Senyuman manis, sikap simpatik, jabat tangan erat, lagak dan perangai yg optimistis siap menyambut datangnya peluang. Ibarat sekeping logam, kau harus rajin memoles-moles diri dgn latihan rutin dan berkelanjutan agar dirimu menjadi magnet dengan kekuatan yg dahsyat: rejeki, pertemanan, simpati dan bantuan akan berdatangan karena daya tarikmu itu.
Kamis, Juli 05, 2012
Random and Puzzling Thoughts
Sering melamun.
Saat ini aku sudah mulai membiasakan diri menyelesaikan pekerjaan 2,5-3 jam saja. Meskipun, konten yang kutulis nggak bener-bener informatif, aku hanya berusaha untuk bisa menyelesaikannya dengan cepat dan beralih ke hal-hal lain. Jika sudah selesai, rasanya sangat lega.
Beberapa hari lalu akhirnya aku melegalisir ijazah. Setelah lulus yudisium setahun yang lalu, baru kali ini aku melegalisir ijazah. Masuk ke halaman kampus yang sepi (karena sedang libur semester), rasanya seperti orang asing. Masuk ke fakultas pun sempat pangling dan bingung mencari tempat legalisir ijazah. Sudah lima tahun berlalu sejak aku pertama kalinya menjejakkan kaki di kampus ini.
Saat berjalan, rasanya aku ingin kembali kuliah. Namun, kali ini dengan jalur beasiswa. Ingin kembali merasakan kesenangan mempelajari hal baru. Sayangnya, aku masih saja menunda-nunda. Bukannya langsung mengurus semua keperluan, aku malah mencari banyak alasan untuk tidak menyegerakannya.
Sering terdiam.
Aku tahu saat ini ada sesuatu yang sangat penting yang harus segera diselesaikan dalam keluarga. Saat bapak menceritakan hal ini, aku semakin merasa menjadi anak yang gagal. Kadang aku melihat bapak sendirian memikirkan sesuatu. Ibu pun tak bisa berbuat banyak. Aku? Rasanya aku malah tak ingin dilahirkan di dunia ini jika aku tak bisa membahagiakan ibu dan bapak. Waktu semakin menipis. I feel like I am in the dead-end.
Sering merasa.
Bahagia rasanya bisa menghadiri pernikahan seorang teman, sebuah pernikahan mewah nan megah. Memang itu bukanlah pertama kalinya aku menghadiri acara pernikahan seorang kawan. Aku pernah menghadiri sebuah acara pernikahan yang sederhana di malam takbir tahun lalu. Tidak mewah, tetapi aku bisa merasakan raut kebahagiaan sahabatku itu. Lalu, sebuah acara pernikahan yang cukup meriah dan entah kenapa aku merasa sedih karena tahu perasaan sang mempelai wanita beberapa bulan sebelum hari pernikahan itu.
Sering bermimpi.
Berulang kali ia hadir dalam mimpiku. Entah kenapa. Atau mungkin aku saja yang ternyata masih memikirkannya?
Aku pun memiliki impian-impian besar. Tak rela rasanya melihat seorang teman bisa lanjut kuliah S2 di Amerika. Kemudian, ada lagi yang ke Cina tahun ini. Mereka bisa, harusnya aku juga bisa. Aku benci saat aku malah meragukan kemampuanku sendiri. Seolah hal itu terlalu mustahil. Aku benci diriku sendiri yang berpikiran seperti itu. Dan, aku ingin membuang potongan diri yang kubenci itu.
Saat semuanya bercampur aduk menjadi satu di dalam pikiran.
Rasanya aku ingin tinggal di sebuah kota baru. Sejenak saja. Tanpa harus dipusingkan dengan pekerjaan, keraguan, apalagi rasa pesimis. Ingin rasanya kembali menjelajah tempat-tempat baru menemukan kepingan-kepingan arti kehidupan yang berharga.
Melangkah.
Saat ini aku sudah mulai membiasakan diri menyelesaikan pekerjaan 2,5-3 jam saja. Meskipun, konten yang kutulis nggak bener-bener informatif, aku hanya berusaha untuk bisa menyelesaikannya dengan cepat dan beralih ke hal-hal lain. Jika sudah selesai, rasanya sangat lega.
Beberapa hari lalu akhirnya aku melegalisir ijazah. Setelah lulus yudisium setahun yang lalu, baru kali ini aku melegalisir ijazah. Masuk ke halaman kampus yang sepi (karena sedang libur semester), rasanya seperti orang asing. Masuk ke fakultas pun sempat pangling dan bingung mencari tempat legalisir ijazah. Sudah lima tahun berlalu sejak aku pertama kalinya menjejakkan kaki di kampus ini.
Saat berjalan, rasanya aku ingin kembali kuliah. Namun, kali ini dengan jalur beasiswa. Ingin kembali merasakan kesenangan mempelajari hal baru. Sayangnya, aku masih saja menunda-nunda. Bukannya langsung mengurus semua keperluan, aku malah mencari banyak alasan untuk tidak menyegerakannya.
Sering terdiam.
Aku tahu saat ini ada sesuatu yang sangat penting yang harus segera diselesaikan dalam keluarga. Saat bapak menceritakan hal ini, aku semakin merasa menjadi anak yang gagal. Kadang aku melihat bapak sendirian memikirkan sesuatu. Ibu pun tak bisa berbuat banyak. Aku? Rasanya aku malah tak ingin dilahirkan di dunia ini jika aku tak bisa membahagiakan ibu dan bapak. Waktu semakin menipis. I feel like I am in the dead-end.
Sering merasa.
Bahagia rasanya bisa menghadiri pernikahan seorang teman, sebuah pernikahan mewah nan megah. Memang itu bukanlah pertama kalinya aku menghadiri acara pernikahan seorang kawan. Aku pernah menghadiri sebuah acara pernikahan yang sederhana di malam takbir tahun lalu. Tidak mewah, tetapi aku bisa merasakan raut kebahagiaan sahabatku itu. Lalu, sebuah acara pernikahan yang cukup meriah dan entah kenapa aku merasa sedih karena tahu perasaan sang mempelai wanita beberapa bulan sebelum hari pernikahan itu.
Sering bermimpi.
Berulang kali ia hadir dalam mimpiku. Entah kenapa. Atau mungkin aku saja yang ternyata masih memikirkannya?
Aku pun memiliki impian-impian besar. Tak rela rasanya melihat seorang teman bisa lanjut kuliah S2 di Amerika. Kemudian, ada lagi yang ke Cina tahun ini. Mereka bisa, harusnya aku juga bisa. Aku benci saat aku malah meragukan kemampuanku sendiri. Seolah hal itu terlalu mustahil. Aku benci diriku sendiri yang berpikiran seperti itu. Dan, aku ingin membuang potongan diri yang kubenci itu.
Saat semuanya bercampur aduk menjadi satu di dalam pikiran.
Rasanya aku ingin tinggal di sebuah kota baru. Sejenak saja. Tanpa harus dipusingkan dengan pekerjaan, keraguan, apalagi rasa pesimis. Ingin rasanya kembali menjelajah tempat-tempat baru menemukan kepingan-kepingan arti kehidupan yang berharga.
Melangkah.
Sabtu, Juni 23, 2012
Wake Up Much Earlier to Meet You Out There
One day, I will wake up much earlier than days before
Sliding out from by bedroom,
Walking slowly
Opening my windows
The sun is still moaning
The birds are chirping one and two
Then, I decide to go out
Heading to my front yard.
There. There you are!
Right in front of me.
Smiling to me.
Sliding out from by bedroom,
Walking slowly
Opening my windows
The sun is still moaning
The birds are chirping one and two
Then, I decide to go out
Heading to my front yard.
There. There you are!
Right in front of me.
Smiling to me.
Jumat, Juni 08, 2012
Hidden Corners
I'm still dreaming that one day I can find lots of new corners...
Where numerous old books are sleeping
Where post cards from all over the world are hanging on the wall
Where the candle-like light unveils the mystery.
Where numerous old books are sleeping
Where post cards from all over the world are hanging on the wall
Where the candle-like light unveils the mystery.
Senin, Juni 04, 2012
Tailing My Mind
People around me are moving forward. Each of them reached his/her dreams. Several days ago, a friend of mine called me. He just landed in Surabaya then continued the journey to Malang and Batu. He said that he accompanied someone to several campuses in Malang. At the afternoon, he called me.
He said that he was in front of UIN Malang and would continue his visit to UMM. I said that UMM is very close to my house. He planned to go to Alun-alun Batu and I suggested him to prepare 3000 rupiahs to ride Bianglala there (which I myself have never had a chance to ride it, huhu).
"I'll be leaving on August," he said.
"After lebaran?"
"Yes."
I was very envious. He got a scholarship to America to obtain his master degree. I know that his journey to pursue his dream was not that smooth. Once he fails, he just stands up. Once he falls down, he just steps forward. Then, he succeeded to reach his dream.
So, what is my dream?
I am still wandering with my mind. Sometimes, I'm tailing my mind where it will be going. At the end, I cannot decide my own desire.
Yes, I have a dream. I'm chasing it right now. Even though I just feel like I'm not gonna succeed it but I force my mind that at the future I will surely succeed to reach the dream. As the result, yes I will reach that dream for sure. I will reach it. I can see now that the dream is already in my hand.
Ya Rabb, guide me to reach my dream...to the land of dreams, to the place where I can see clearly who I am.
He said that he was in front of UIN Malang and would continue his visit to UMM. I said that UMM is very close to my house. He planned to go to Alun-alun Batu and I suggested him to prepare 3000 rupiahs to ride Bianglala there (which I myself have never had a chance to ride it, huhu).
"I'll be leaving on August," he said.
"After lebaran?"
"Yes."
I was very envious. He got a scholarship to America to obtain his master degree. I know that his journey to pursue his dream was not that smooth. Once he fails, he just stands up. Once he falls down, he just steps forward. Then, he succeeded to reach his dream.
So, what is my dream?
I am still wandering with my mind. Sometimes, I'm tailing my mind where it will be going. At the end, I cannot decide my own desire.
Yes, I have a dream. I'm chasing it right now. Even though I just feel like I'm not gonna succeed it but I force my mind that at the future I will surely succeed to reach the dream. As the result, yes I will reach that dream for sure. I will reach it. I can see now that the dream is already in my hand.
Ya Rabb, guide me to reach my dream...to the land of dreams, to the place where I can see clearly who I am.
Minggu, Mei 20, 2012
Meresapi Malam
Hari Kamis lalu, seorang sahabat menjemputku. Kami langsung pergi menuju ke rumah satu sahabat kami yang, katanya, kesepian di rumah. Padahal seminggu sebelumnya kami sudah menjenguknya. Ya sudahlah, mumpung lagi ada waktu luang juga. Kami sampai di rumahnya pukul setengah tujuh malam. Makan bakso. Mengobrol. Bercanda. Mengobrol. Sampai pukul setengah sepuluh malam.
Sepulangnya, aku dan sahabatku ini mampir ke Indomaret. Beli pulsa (sudah 10 hari hape tak berpulsa, heu) dan beli es krim. Jadi inget, selama hampir 6 bulan lamanya aku sering menyantap es krim. Sampai kadang ingin selalu mencicipi es krim yang belum pernah kucoba.
Sepeda motor diarahkan ke alun-alun Batu. Malam hari dan juga hari libur, alun-alun pun ramai oleh pengunjung. Kebanyakan memang anak-anak muda. Sahabatku langsung menepikan sepeda motornya. Kami duduk di bantalan trotoar, kemudian makan es krim.
Banyak hal yang diceritakan. Namun, aku lebih banyak mengalihkan perhatianku pada es krim yang kumakan. Hal-hal yang kami bicarakan tak jauh dari betapa banyak hal yang berubah selama beberapa tahun terakhir ini. Tiga sahabat kami sudah menikah. Salah satunya sudah mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Dua yang lainnya kini sedang menanti buah hati pertama mereka.
Satu lagi sahabat kami kabarnya akan juga segera melangsungkan pernikahan. Satu yang lainnya akan segera dilamar. Dan satu lagi sedang bimbang memilih diantara dua pilihan. Ah, kenapa pembicaraan seperti ini selalu membuat perasaanku jadi aneh.
Kami menghabiskan es krim itu dengan sesekali mengomentari anak-anak muda yang bersliweran. Dulu sewaktu masih SMP-SMA, kami sering main ke alun-alun sepulang sekolah. Alun-alun Batu sekarang jauh lebih cantik dan pastinya makin ramai. Sejak alun-alun yang baru ini diresmikan, satu keinginanku: naik Bianglala, belum pernah terealisasikan.
Malam-malam di Batu, dingin. Kami malah makan es krim. Sekitar pukul 22.15, aku diantar pulang sampai rumah. Sudah cukup lelah. Namun, aku sempat tidak bisa langsung tertidur. Teringat kembali bayangan-bayangan waktu. Banyak hal yang berlalu. Sudah ratusan malam yang terlepas. Sudah berapa helaan nafas yang terlewat begitu saja?
Sepulangnya, aku dan sahabatku ini mampir ke Indomaret. Beli pulsa (sudah 10 hari hape tak berpulsa, heu) dan beli es krim. Jadi inget, selama hampir 6 bulan lamanya aku sering menyantap es krim. Sampai kadang ingin selalu mencicipi es krim yang belum pernah kucoba.
Sepeda motor diarahkan ke alun-alun Batu. Malam hari dan juga hari libur, alun-alun pun ramai oleh pengunjung. Kebanyakan memang anak-anak muda. Sahabatku langsung menepikan sepeda motornya. Kami duduk di bantalan trotoar, kemudian makan es krim.
Banyak hal yang diceritakan. Namun, aku lebih banyak mengalihkan perhatianku pada es krim yang kumakan. Hal-hal yang kami bicarakan tak jauh dari betapa banyak hal yang berubah selama beberapa tahun terakhir ini. Tiga sahabat kami sudah menikah. Salah satunya sudah mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Dua yang lainnya kini sedang menanti buah hati pertama mereka.
Satu lagi sahabat kami kabarnya akan juga segera melangsungkan pernikahan. Satu yang lainnya akan segera dilamar. Dan satu lagi sedang bimbang memilih diantara dua pilihan. Ah, kenapa pembicaraan seperti ini selalu membuat perasaanku jadi aneh.
Kami menghabiskan es krim itu dengan sesekali mengomentari anak-anak muda yang bersliweran. Dulu sewaktu masih SMP-SMA, kami sering main ke alun-alun sepulang sekolah. Alun-alun Batu sekarang jauh lebih cantik dan pastinya makin ramai. Sejak alun-alun yang baru ini diresmikan, satu keinginanku: naik Bianglala, belum pernah terealisasikan.
![]() |
| Alun-alun Batu (sumber dari sini) |
![]() |
| Pengen naik Bianglala... (sumber dari sini) |
Malam-malam di Batu, dingin. Kami malah makan es krim. Sekitar pukul 22.15, aku diantar pulang sampai rumah. Sudah cukup lelah. Namun, aku sempat tidak bisa langsung tertidur. Teringat kembali bayangan-bayangan waktu. Banyak hal yang berlalu. Sudah ratusan malam yang terlepas. Sudah berapa helaan nafas yang terlewat begitu saja?
Senin, April 30, 2012
Kuasai Satu Hal
Tuhan sekali pun tak meminta kita mengusai semua hal. Kuasailah satu hal
untuk menjadikan diri kt master di bidangnya masing2, ayo! (@AhyudinACT)
Agreed!
Banyak hal yang ingin kulakukan. Kadang saking banyaknya, sampai bingung mau melakukan yang mana dulu. Ujung-ujungnya, eh, malah nggak melakukan apapun. Jadi, ya, aku harus bisa fokus pada satu hal dan menjadi ahli di bidang itu. Mungkin memang tidak mudah dan akan butuh banyak pengorbanan. Tapi, that's the art!
Seorang kawan pernah mengatakan bahwa hal yang paling nikmat adalah saat kita sedang berproses. Kalau gagal dan jatuh, ya bangkit lagi. Sedangkan hal yang paling susah adalah mempertahankan apa yang sudah diterima. "Digoyang sedikit saja, pasti langsung jatuh."
Mungkin banyak orang yang akan menganggapku masa bodoh dan egois dengan pilihan-pilihan yang aku buat. Namun, aku percaya aku akan bisa membuktikan bahwa akan ada suatu masa saat aku bisa mengambil semua yang sedang kutanam saat ini. Jika diibaratkan sebuah tanaman, kini, aku sedang menanam sebuah biji yang bahkan belum berkecambah. Tampak luar, masih seperti tanah kosong, hanya (mungkin) aku dan Tuhan yang tahu bahwa ada sebuah biji yang kutanam di dalam tanah itu. Namun, aku akan berusaha untuk disiplin menyiraminya dan memberinya pupuk.
Well, have a great day!
Welcome to May 2012 ^_^
Agreed!
Banyak hal yang ingin kulakukan. Kadang saking banyaknya, sampai bingung mau melakukan yang mana dulu. Ujung-ujungnya, eh, malah nggak melakukan apapun. Jadi, ya, aku harus bisa fokus pada satu hal dan menjadi ahli di bidang itu. Mungkin memang tidak mudah dan akan butuh banyak pengorbanan. Tapi, that's the art!
Seorang kawan pernah mengatakan bahwa hal yang paling nikmat adalah saat kita sedang berproses. Kalau gagal dan jatuh, ya bangkit lagi. Sedangkan hal yang paling susah adalah mempertahankan apa yang sudah diterima. "Digoyang sedikit saja, pasti langsung jatuh."
Mungkin banyak orang yang akan menganggapku masa bodoh dan egois dengan pilihan-pilihan yang aku buat. Namun, aku percaya aku akan bisa membuktikan bahwa akan ada suatu masa saat aku bisa mengambil semua yang sedang kutanam saat ini. Jika diibaratkan sebuah tanaman, kini, aku sedang menanam sebuah biji yang bahkan belum berkecambah. Tampak luar, masih seperti tanah kosong, hanya (mungkin) aku dan Tuhan yang tahu bahwa ada sebuah biji yang kutanam di dalam tanah itu. Namun, aku akan berusaha untuk disiplin menyiraminya dan memberinya pupuk.
Well, have a great day!
Welcome to May 2012 ^_^
Minggu, April 29, 2012
Have You?
Have you let your tears burst out without your willingness?
There it comes a day when you do not know what is really going in your life.
You keep your feelings inside. You keep your mouth shut. Thus, your tears cannot manipulate you.
Have you challenged yourself to face your own fear, your own gut?
Passing day by day plunging yourself into an unknown world.
Searching for new treasure and get a shining life.
That may sound easy, yet, have you tried it?
Have you trapped yourself into your own box?
You create a box as if you can keep all stuff inside.
Many things and feelings are guarded inside.
Without your knowing, you trap yourself into that box.
Have you notified yourself as nobody?
Pretending that your are just fine for being a mediocre.
Pretending to be okay while others are reaching their dreams and fighting for it.
Stating that there will be no one blames you for what you haven't done.
Then, all of it just leaves you with a no-one-cares person.
Have you crushed into someone?
You give out all of your trust and else.
Realizing that you turn out to be a silly person, you just cannot deny that you are fooled by yourself.
Putting too much trust or hope into something, after all, is not a wise option.
Have you?
Have you questioned to yourself why you have lots of questions onto your own life?
There it comes a day when you do not know what is really going in your life.
You keep your feelings inside. You keep your mouth shut. Thus, your tears cannot manipulate you.
Have you challenged yourself to face your own fear, your own gut?
Passing day by day plunging yourself into an unknown world.
Searching for new treasure and get a shining life.
That may sound easy, yet, have you tried it?
Have you trapped yourself into your own box?
You create a box as if you can keep all stuff inside.
Many things and feelings are guarded inside.
Without your knowing, you trap yourself into that box.
Have you notified yourself as nobody?
Pretending that your are just fine for being a mediocre.
Pretending to be okay while others are reaching their dreams and fighting for it.
Stating that there will be no one blames you for what you haven't done.
Then, all of it just leaves you with a no-one-cares person.
Have you crushed into someone?
You give out all of your trust and else.
Realizing that you turn out to be a silly person, you just cannot deny that you are fooled by yourself.
Putting too much trust or hope into something, after all, is not a wise option.
Have you?
Have you questioned to yourself why you have lots of questions onto your own life?
Minggu, April 22, 2012
Ruang dalam Kotak
Kupikir semua orang selalu punya kehidupannya sendiri-sendiri. Inilah yang membuatku kadang terlalu gagu untuk sekedar menanyakan kabar mereka semua. Apa yang ada sebelumnya belum tentu ada saat ini. Banyak hal baru yang datang dan hidup. Ada juga hal-hal yang hilang.
Jika, hanya jika, aku diberikan sebuah pertanyaan. Mungkin aku akan menjawab tidak. Tidak pernah terlintas sekalipun aku bisa hidup di bumi ini. Tidak ada satu pun keinginan, dulu sebelum dilahirkan, untuk hidup seperti ini. Mungkin aku akan lebih memilih untuk menjadi malaikat. Atau menjadi setan sekalipun. Namun, kuasaku tak ada apa-apanya.
Saat berada sendirian di dalam sebuah kotak. Yang terlihat dan terjamah adalah empat sisinya. Meraba setiap inci ruang itu. Kadang berjalan hilir mudik di dalamnya. Lebih sering hanya berputar-putar di dalamnya. Kebingungan. Hal apalagi yang bisa lebih menyedihkan jika dibandingkan dengan kebingungan. Orang yang bingung itu terlihat tak utuh. Terombang-abing, berpusing dengan akal dan pikirannya sendiri. Tak bisa mengambil keputusan. Terlalu sesak untuk sekadar mengambil sejumput nafas. Terlelap dalam khayalan tentang dunia mimpi.
Ruang itu seakan membayangiku dengan kilasan ketakutan. Sebongkah ketakutan yang menggiring ke rasa-rasa takut yang lain. Menabraki dinding yang kasat mata. Mencoba menerobos tapi terpental. Melawan rasa takut, tapi ketakutan itu malah menelan bulat-bulat. Seakan tak ada pijakan. Seakan tak pegangan. Melayang-layang di dalamnya. Tanpa arah apalagi tujuan. Rasa kalut yang masih saja menyelubungi pandang.
Satu orang dalam satu kotak. Kadang kotak itu membuat penghuninya terlena di dalamnya. Membuat orang lain terlalu hina untuk bisa menyentuhkan jarinya apalagi memanggil sebuah nama. Di sisi yang lain, kotak itu menjebak. Memerangkap penghuninya sendiri di dalamnya. Membuatnya sesak. Tak ada udara.
Semoga semua masih bisa bertahan di dalamnya. Di dalam ruang sebuah kotak.
Jika, hanya jika, aku diberikan sebuah pertanyaan. Mungkin aku akan menjawab tidak. Tidak pernah terlintas sekalipun aku bisa hidup di bumi ini. Tidak ada satu pun keinginan, dulu sebelum dilahirkan, untuk hidup seperti ini. Mungkin aku akan lebih memilih untuk menjadi malaikat. Atau menjadi setan sekalipun. Namun, kuasaku tak ada apa-apanya.
Saat berada sendirian di dalam sebuah kotak. Yang terlihat dan terjamah adalah empat sisinya. Meraba setiap inci ruang itu. Kadang berjalan hilir mudik di dalamnya. Lebih sering hanya berputar-putar di dalamnya. Kebingungan. Hal apalagi yang bisa lebih menyedihkan jika dibandingkan dengan kebingungan. Orang yang bingung itu terlihat tak utuh. Terombang-abing, berpusing dengan akal dan pikirannya sendiri. Tak bisa mengambil keputusan. Terlalu sesak untuk sekadar mengambil sejumput nafas. Terlelap dalam khayalan tentang dunia mimpi.
Ruang itu seakan membayangiku dengan kilasan ketakutan. Sebongkah ketakutan yang menggiring ke rasa-rasa takut yang lain. Menabraki dinding yang kasat mata. Mencoba menerobos tapi terpental. Melawan rasa takut, tapi ketakutan itu malah menelan bulat-bulat. Seakan tak ada pijakan. Seakan tak pegangan. Melayang-layang di dalamnya. Tanpa arah apalagi tujuan. Rasa kalut yang masih saja menyelubungi pandang.
Satu orang dalam satu kotak. Kadang kotak itu membuat penghuninya terlena di dalamnya. Membuat orang lain terlalu hina untuk bisa menyentuhkan jarinya apalagi memanggil sebuah nama. Di sisi yang lain, kotak itu menjebak. Memerangkap penghuninya sendiri di dalamnya. Membuatnya sesak. Tak ada udara.
Semoga semua masih bisa bertahan di dalamnya. Di dalam ruang sebuah kotak.
Titik Bahagia
"Apa itu bahagia?" tanyaku.
Dia terdiam beberapa detik. Pandangan matanya masih menyapu langit malam.
"Kenapa kau pertanyakan?" dia malah balik bertanya.
Ah, selalu. Pertanyaanku selalu dijawabnya dengan pertanyaan baru.
"Memangnya kenapa aku tidak boleh bertanya?" aku mulai kesal.
Kini ia menatapku kemudian tersenyum, "Menurutmu sendiri?"
"Hmm...," aku berpikir sejenak. Mencoba mencari kata-kata untuk mendeskripsikan kata itu.
Kami terdiam beberapa saat. Dia merapatkan jaketnya.
"Saat tidak ada kekhawatiran. Saat tidak ada kesedihan atau penderitaan," jawabku.
"Bagaimana jika kebahagiaan adalah penderitaan itu sendiri?"
"Maksudnya?"
"Seseorang akan merasa bahagia saat ia melihat orang lain menderita. Jadi, kebahagiaan itu adalah penderitaan."
"Atau sama juga dengan kesedihan dan kekhawatiran. Ada orang yang baru bisa merasa bahagia saat ia berhasil membuat orang lain sedih dan khawatir," sambungnya.
Benar juga.
"Tapi, itu kan bukan kebahagiaan yang sesungguhnya," sanggahku.
"Lalu, apa kebahagiaan yang sesungguhnya itu?"
"Sebentar...," aku memerlukan sedikit jeda, "Saat kita bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain?"
"Benar kah dengan begitu kita akan bahagia?"
"Ya, setidaknya orang lain bisa bahagia. Di dunia ini masih cukup banyak orang yang merasa bahagia ketika orang-orang di sekitarnya bisa bahagia karena dirinya."
Dia mengangguk. Syukurlah, kali ini ia bisa sependapat denganku.
"Dan, di mana letak kebahagiaan itu?"
Ah, mengapa dia malah bertanya lagi.
"Di dalam hati."
"Kebahagiaan yang tulus ada di dalam hati. Letak kebahagiaan yang sejati ada di dalam hati," lanjutku lagi sebelum disanggahnya lagi.
"Apa buktinya?"
"Hati sendiri yang akan membuktikannya."
Dia menyunggingkan sebuah senyuman. Setidaknya kali ini ia tak akan mendebatku terlalu jauh.
"Buatku, kebahagiaan itu saat kita merasa kosong. Benar-benar tidak ada isinya. Kecuali sebuah rasa...," dia menggantungkan kata-katanya sejenak. Aku sebal jika dia sudah berada di titik ini karena pasti akan membuatku tak bisa menanggapi atau mengeluarkan sepatah kata pun lagi.
"Sebuah rasa yang hanya bisa kita rasakan tetapi tak cukup kata untuk mendeskripsikannya. Sebuah rasa yang ringan. Kita tahu masih ada beban dalam kehidupan kita, tapi kita yakin bahwa akan selalu ada cara untuk mengatasi semua masalah di setiap beban itu. Saat kita merasa sudah lelah, kita masih bisa berjalan ke depan karena kita tahu kelelahan ini pasti akan terbayar di ujung jalan sana. Kadang menangis juga adalah sebuah bentuk dari kebahagiaan itu sendiri."
Menangis?
"Di saat hanya ada kita dan Dia. Mencurahkan semua rasa pada-Nya. Bergantung pada-Nya. Percaya bahwa kita tidak pernah sendiri. Menitikkan air mata bukan karena duniawi tapi lebih karena ingin selalu berada di dekat-Nya, tidak ingin jauh dari-Nya. Menangis karena sebentuk rasa syukur. Hanya orang-orang beruntung yang bisa mendapatkan kebahagiaan yang seperti ini."
"Jadi, kebahagiaan itu...," dia menoleh kepadaku.
"...ada di dalam diri setiap manusia," sambungku kemudian tersenyum padanya.
Dia terdiam beberapa detik. Pandangan matanya masih menyapu langit malam.
"Kenapa kau pertanyakan?" dia malah balik bertanya.
Ah, selalu. Pertanyaanku selalu dijawabnya dengan pertanyaan baru.
"Memangnya kenapa aku tidak boleh bertanya?" aku mulai kesal.
Kini ia menatapku kemudian tersenyum, "Menurutmu sendiri?"
"Hmm...," aku berpikir sejenak. Mencoba mencari kata-kata untuk mendeskripsikan kata itu.
Kami terdiam beberapa saat. Dia merapatkan jaketnya.
"Saat tidak ada kekhawatiran. Saat tidak ada kesedihan atau penderitaan," jawabku.
"Bagaimana jika kebahagiaan adalah penderitaan itu sendiri?"
"Maksudnya?"
"Seseorang akan merasa bahagia saat ia melihat orang lain menderita. Jadi, kebahagiaan itu adalah penderitaan."
"Atau sama juga dengan kesedihan dan kekhawatiran. Ada orang yang baru bisa merasa bahagia saat ia berhasil membuat orang lain sedih dan khawatir," sambungnya.
Benar juga.
"Tapi, itu kan bukan kebahagiaan yang sesungguhnya," sanggahku.
"Lalu, apa kebahagiaan yang sesungguhnya itu?"
"Sebentar...," aku memerlukan sedikit jeda, "Saat kita bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain?"
"Benar kah dengan begitu kita akan bahagia?"
"Ya, setidaknya orang lain bisa bahagia. Di dunia ini masih cukup banyak orang yang merasa bahagia ketika orang-orang di sekitarnya bisa bahagia karena dirinya."
Dia mengangguk. Syukurlah, kali ini ia bisa sependapat denganku.
"Dan, di mana letak kebahagiaan itu?"
Ah, mengapa dia malah bertanya lagi.
"Di dalam hati."
"Kebahagiaan yang tulus ada di dalam hati. Letak kebahagiaan yang sejati ada di dalam hati," lanjutku lagi sebelum disanggahnya lagi.
"Apa buktinya?"
"Hati sendiri yang akan membuktikannya."
Dia menyunggingkan sebuah senyuman. Setidaknya kali ini ia tak akan mendebatku terlalu jauh.
"Buatku, kebahagiaan itu saat kita merasa kosong. Benar-benar tidak ada isinya. Kecuali sebuah rasa...," dia menggantungkan kata-katanya sejenak. Aku sebal jika dia sudah berada di titik ini karena pasti akan membuatku tak bisa menanggapi atau mengeluarkan sepatah kata pun lagi.
"Sebuah rasa yang hanya bisa kita rasakan tetapi tak cukup kata untuk mendeskripsikannya. Sebuah rasa yang ringan. Kita tahu masih ada beban dalam kehidupan kita, tapi kita yakin bahwa akan selalu ada cara untuk mengatasi semua masalah di setiap beban itu. Saat kita merasa sudah lelah, kita masih bisa berjalan ke depan karena kita tahu kelelahan ini pasti akan terbayar di ujung jalan sana. Kadang menangis juga adalah sebuah bentuk dari kebahagiaan itu sendiri."
Menangis?
"Di saat hanya ada kita dan Dia. Mencurahkan semua rasa pada-Nya. Bergantung pada-Nya. Percaya bahwa kita tidak pernah sendiri. Menitikkan air mata bukan karena duniawi tapi lebih karena ingin selalu berada di dekat-Nya, tidak ingin jauh dari-Nya. Menangis karena sebentuk rasa syukur. Hanya orang-orang beruntung yang bisa mendapatkan kebahagiaan yang seperti ini."
"Jadi, kebahagiaan itu...," dia menoleh kepadaku.
"...ada di dalam diri setiap manusia," sambungku kemudian tersenyum padanya.
Kamis, April 19, 2012
Lead the Dream, Direct the Passion
Mengikuti impian itu membuat gila. Kadang bikin pusing dan ujung-ujungnya bikin suntuk seharian.
Jadi, lebih baik tak punya mimpi?
Menemukan lentera jiwa itu menyenangkan. Namun, sekadar ditemukan? Lalu?
Well, just lead that dream and direct the passion...through several ways...
How? You define that!
Jadi, lebih baik tak punya mimpi?
Menemukan lentera jiwa itu menyenangkan. Namun, sekadar ditemukan? Lalu?
Well, just lead that dream and direct the passion...through several ways...
How? You define that!
Sabtu, April 07, 2012
Anger
My brains seems like to explode. When everything in this head jostles each other, I, then, want to throw up.
I am fed up with my own words. I just want to spell any kinds of words to curse everyone, to blame my life, or just get annoyed with myself. I don't like myself being like this. But, this one just allow me to let my anger out.
Actually, I wanted to update my fb status and tagged your name just to let you know that I was disappointed with you. You are my best friend. But, these recent days you made me like a trash can. I will sincerely listen to your stories but please don't complain or grumble to me. I am not a god who knows everything and I am not the one who has no problem. At that time I wanted to yell at you, you were very annoying. Once I tried to tell my problem that turned my mood badly, you didn't give any nice words, but you told me that every male is insane. Well, girl, thank you you helped me a lot!!!
Yesterday you texted me that you wanted to hang out and released all kinds of stressful feelings. I tried to finish my job as soon as possible. Unfortunately, it was raining. You didn't text me again and I assumed that our plan was cancelled. Then, at night you told your other problem and I was so mad at you. Maybe I need to charge you as you always tell all of your problems to me. Sorry, I am a human too, girl! I do have my own problems. I do have anger. I do!
I know you may not care. But, please...
[you are my best friend so don't make me hate you]
I am fed up with my own words. I just want to spell any kinds of words to curse everyone, to blame my life, or just get annoyed with myself. I don't like myself being like this. But, this one just allow me to let my anger out.
Actually, I wanted to update my fb status and tagged your name just to let you know that I was disappointed with you. You are my best friend. But, these recent days you made me like a trash can. I will sincerely listen to your stories but please don't complain or grumble to me. I am not a god who knows everything and I am not the one who has no problem. At that time I wanted to yell at you, you were very annoying. Once I tried to tell my problem that turned my mood badly, you didn't give any nice words, but you told me that every male is insane. Well, girl, thank you you helped me a lot!!!
Yesterday you texted me that you wanted to hang out and released all kinds of stressful feelings. I tried to finish my job as soon as possible. Unfortunately, it was raining. You didn't text me again and I assumed that our plan was cancelled. Then, at night you told your other problem and I was so mad at you. Maybe I need to charge you as you always tell all of your problems to me. Sorry, I am a human too, girl! I do have my own problems. I do have anger. I do!
I know you may not care. But, please...
[you are my best friend so don't make me hate you]
Minggu, April 01, 2012
Satu Kata
Satu kata bisa membangkitkan amarah seseorang. Itulah yang aku alami (setidaknya mendengar dan melihat langsung) saat naik angkot hari Sabtu lalu. Syukurlah pekerjaan udah bisa langsung beres, jadi habis shalat Zuhur bisa langsung berangkat ke Gramedia.
Saat itu aku naik angkot GL. Di dalamnya ada beberapa penumpang, diantaranya ada seorang ibu dan dua anak kembarnya. Angkot berjalan cukup lambat dan sempat berhenti mendadak, hingga mengakibatkan beberapa kendaraan yang ada di belakangnya terpaksa ikut berhenti. Saat itu ada seorang mahasiswi memakai jas almamater yang naik sepeda motor dengan seorang temannya. Dia langsung menyalip angkot dan meneriakkan satu kata ke sopir itu, "G*bl*k!" Whuzz...mahasiswi itu langsung tancap gas. Seketika itu juga sang sopir langsung ngamuk.
Sang sopir pun langsung tancap gas dan ngebut. Awalnya aku tidak tahu kenapa si sopir ini langsung ngebut. Sempet ngerasa serem juga. Dan, ow-ow...ternyata
Saat itu aku naik angkot GL. Di dalamnya ada beberapa penumpang, diantaranya ada seorang ibu dan dua anak kembarnya. Angkot berjalan cukup lambat dan sempat berhenti mendadak, hingga mengakibatkan beberapa kendaraan yang ada di belakangnya terpaksa ikut berhenti. Saat itu ada seorang mahasiswi memakai jas almamater yang naik sepeda motor dengan seorang temannya. Dia langsung menyalip angkot dan meneriakkan satu kata ke sopir itu, "G*bl*k!" Whuzz...mahasiswi itu langsung tancap gas. Seketika itu juga sang sopir langsung ngamuk.
Sang sopir pun langsung tancap gas dan ngebut. Awalnya aku tidak tahu kenapa si sopir ini langsung ngebut. Sempet ngerasa serem juga. Dan, ow-ow...ternyata
Reveal the Truth
I was so blessed since I could wake very much early this morning.
I felt like it's been years I could only wake up when the sun is rising high.
Sometimes, I will sleep again after taking praying but I could not sleep again this morning.
Finally, I knew the truth. Actually, I knew that it would happen to me.
At a moment, I felt miserable. At few seconds I transformed into a silly person.
Yet, it was a relief. Therefore, I can continue my life.
Therefore,
I can continue my life...starting my new life.
I felt like it's been years I could only wake up when the sun is rising high.
Sometimes, I will sleep again after taking praying but I could not sleep again this morning.
Finally, I knew the truth. Actually, I knew that it would happen to me.
At a moment, I felt miserable. At few seconds I transformed into a silly person.
Yet, it was a relief. Therefore, I can continue my life.
Therefore,
I can continue my life...starting my new life.
Rabu, Maret 28, 2012
I Won't Give Up
'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up [Jason Mraz-I Won't Give Up]
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up [Jason Mraz-I Won't Give Up]
It is easy to say it loud. Yet, it needs a lof of effort to make it.
However, I won't give up. I fall once, I'll stand up a thousand times.
Minggu, September 18, 2011
Melihat Kesendirian
Sudah malam. Mata sudah sangat lelah. Lingkaran hitam sudah mewarnai kantung mata. Ingin segera terlelap. Sudah ada amanah yang harus dikerjakan besok. Hanya saja, godaan untuk menulis kali ini lebih kuat.
Untuk pertama kalinya aku ngeblog dari dalam kamar kost sebagai anak kost. Rasanya? masih belum terbiasa. Jika biasanya saat tiba di rumah, masakan ibu sudah siap di meja, kini kalau lapar harus keluar membeli makanan sendiri. Jika tiap malam sering berargumen dengan adik saat menonton televisi, kini aku bahkan tak berkesempatan untuk menonton televisi karena memang tidak ada televisi di kamar kost.
Bosan. Sepi.
Sesekali masih berkirim sms ke para sahabat. Membagikan semua kesendirian yang ada di sini. Masih merasa asing dengan sebuah dunia yang dulu kudambakan. Iya, inilah yang memang aku pinta pada-Nya. Dia pun mengabulkannya. Tampaknya aku memang harus menempa diriku dengan lebih maksimal. Itulah kenapa Allah mengabulkan permintaanku.
Saat aku mencoba melihat kesendirian, yang kulihat hanya sebuah bayang samar. Tidak. Tidak ada kesendirian. Tidak tampak kesendirian. Hanya sebuah bayang samar. Bayang yang sedang menutupi sesuatu, sesuatu yang jauh lebih indah dan berwarna.
[wah, lumayan nih dari dalam kamar kost bisa connect ke hotspot jadi bisa sering on-line]
Untuk pertama kalinya aku ngeblog dari dalam kamar kost sebagai anak kost. Rasanya? masih belum terbiasa. Jika biasanya saat tiba di rumah, masakan ibu sudah siap di meja, kini kalau lapar harus keluar membeli makanan sendiri. Jika tiap malam sering berargumen dengan adik saat menonton televisi, kini aku bahkan tak berkesempatan untuk menonton televisi karena memang tidak ada televisi di kamar kost.
Bosan. Sepi.
Sesekali masih berkirim sms ke para sahabat. Membagikan semua kesendirian yang ada di sini. Masih merasa asing dengan sebuah dunia yang dulu kudambakan. Iya, inilah yang memang aku pinta pada-Nya. Dia pun mengabulkannya. Tampaknya aku memang harus menempa diriku dengan lebih maksimal. Itulah kenapa Allah mengabulkan permintaanku.
Saat aku mencoba melihat kesendirian, yang kulihat hanya sebuah bayang samar. Tidak. Tidak ada kesendirian. Tidak tampak kesendirian. Hanya sebuah bayang samar. Bayang yang sedang menutupi sesuatu, sesuatu yang jauh lebih indah dan berwarna.
[wah, lumayan nih dari dalam kamar kost bisa connect ke hotspot jadi bisa sering on-line]
Rabu, September 07, 2011
Indonesia dan Bahasa Daerah*
Suatu sore pada pukul 15.00 dari Stasiun Kota Baru Malang, Kereta Matarmaja yang saya tumpangi menuju Jakarta baru saja melaju.
“Sewuan, sewuan…,” seru seorang pedagang makanan menjajakan makanannya.
Saat kereta terus melaju ke arah barat, keesokan harinya…
“Saribuan, saribuan…,” pedagang yang lain juga tampak semangat menawarkan dagangannya kepada para penumpang kereta.
Sewuan, saribu, dua kata yang berbeda tetapi memiliki sebuah arti yang sama: seribuan. Pedagang yang berbeda dari dua suku yang berbeda (Jawa dan Sunda) sama-sama menjemput rejeki dengan menjual makanan ringan seharga seribu per satuannya. Mereka menggunakan bahasa daerah masing-masing dalam ‘mempromosikan’ dagangannya.
Di kesempatan yang lain, saat saya baru saja tiba di Bandung, saya merasakan roaming. Orang-orang di sekitar saya menggunakan bahasa Sunda yang sama sekali tidak familiar di telinga saya. Jika biasanya saya disapa dengan panggilan Mbak, kini disapa dengan panggilan Neng. Agak kikuk rasanya, tapi ya mau bagaimana lagi.
Saat saya berkunjung ke Universitas Negeri Jakarta, saya jarang sekali mendengar adanya percakapan dalam bahasa Jawa. Hal ini tentu berbeda sekali dengan yang sering saya dengar di kampus saya, Universitas Negeri Malang, di mana sebagian besar mahasiswanya menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Tentu saja berbeda, ya, hehe.
Saya pernah disangka oleh seorang kawan bahwa saya ini orang Surabaya, ya sebenarnya tidak terlalu meleset juga karena saya asli Malang (cukup 2 jam jaraknya dari Surabaya jika ditempuh dengan bus patas). Tampaknya kawan saya itu menebaknya dengan cara (logat) bicara saya. Ah, belum tahu dia jika di Malang ada juga boso walikan. Setiap kata diucapkan secara terbalik. Misalnya kata “saya” berubah menjadi “ayas”, dan kata “rek” (sapaan antar sesama teman) bisa berubah menjadi “ker”. Yang paling familiar adalah kata “arek Malang” yang berubah menjadi “kera Ngalam”, huruf “e” dalam “kera” diucapkan seperti “e” dalam “bebek”.
Indonesia dengan keberagaman suku dan budayanya tak pernah lepas dari bahasa daerah yang dimiliki di wilayah masing-masing. Salah satu contohnya ada di Jawa Timur. Pulau Madura punya bahasa Madura dan menurut penjelasan seorang kawan asli Pamekasan, bahkan bahasa Madura itu pun bisa berbeda-beda tergantung daerahnya. Di kampus mudah saja menebak seorang kawan itu asli Malang atau bukan dengan mendengar bagaimana ia menyapa teman-temannya. Jika ia menyapa dengan “Rek” maka ia bisa cukup dipastikan berasal dari Malang, tetapi jika menyapa dengan “Cah” (yang berasal dari kata bocah) ada kemungkinan dia berasal dari Blitar atau Kediri.
Bahasa daerah itu sangat unik. Kita bisa menebak seseorang itu berasal darimana dengan mengetahui logat atau dialek bicaranya, seperti seorang kawan yang berasal dari Padang. Meskipun dia sedang (berusaha) bercakap-cakap dengan bahasa Jawa, tetap saja bisa ditebak bahwa dia bukan asli orang Jawa. Saat berada di sebuah forum nasional, seorang peserta pernah protes karena mendengar saya dan kawan saya yang sama-sama asli Malang sedang bercakap-cakap dalam bahasa Jawa khas Malang. “Jangan pakai bahasa planet,” sindirnya dengan nada bercanda yang dimaksudkan agar saya dan kawan saya ini menggunakan bahasa Indonesia saja dalam berkomunikasi.
Pulau Jawa meski memiliki bahasa Jawa sebagai bahasa daerah, tetapi tetap saja ada perbedaan-perbedaan di tiap daerahnya. Di Jawa Timur misalnya, bahasa Suroboyoan cukup dikenal dengan penggunaan bahasa Jawa yang lebih ‘kasar’ dari bahasa Jawa di daerah lain. Bahkan seorang kawan dari Madiun pernah merasa bahwa orang Malang sudah terlalu kasar dalam berbicara, meski Madiun dan Malang sama-sama memiliki bahasa Jawa sebagai bahasa daerah. Sebuah kata dalam bahasa Jawa bisa tidak dipahami oleh orang berbahasa Jawa lainnya. Saya sempat bingung saat seorang kawan menyebut kata “panggah”, dan saya baru ngeh bahwa kata itu berarti “tetep” dalam bahasa yang saya-gunakan-sehari-hari . Panggah=tetep=tetap. Konon, semakin ke barat bahasa Jawa akan semakin halus. Bahasa Jawa arek Malang bisa dipastikan akan berbeda jika dibandingkan dengan cah Solo, misalnya. Orang Yogya mungkin akan beranggapan bahwa orang Surabaya tidak sopan karena berbicara terlalu cepat dan blak-blakan. Sebaliknya, orang Malang bisa beranggapan orang Solo terlalu ‘lamban’ hanya karena cara bicaranya yang pelan. Saya tidak bermaksud untuk mendiskriminasi salah satu pihak, hanya saja saya ingin menunjukkan betapa bahasa daerah di Indonesia itu sangat unik dan menarik untuk dikenal. Ah, saya sendiri pernah kebingungan saat diajak mengobrol dengan ibu seorang teman yang berasal dari Semarang. Entah kenapa meskipun sama-sama menggunakan bahasa Jawa, saya sempat tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh ibu teman saya itu. Sempat bertanya-tanya, “Kenapa saya tidak nyambung, ya?”
Keunikan bahasa daerah yang ada di Indonesia juga sering dijadikan bahan untuk melawak. Contohnya ada pada Sule salah satu pelawak di Opera van Java. Dia begitu ‘berhasil’ mengundang tawa para penonton saat ia berusaha menggunakan bahasa Jawa yang cukup terdengar ‘lucu’ di lidah Sunda-nya. Saat menggelar road show di Malang, hanya dengan dua tiga kata dalam bahasa Jawa yang diucapkannya, sontak semua orang bisa tertawa. Begitu pula saat menggelar road show di Bali atau Semarang. Bahasa daerah memang memiliki sebuah daya tarik tersendiri.
Seorang dosen di kampus saya pernah mendapat guyonan dari seorang kerabatnya. “Sudah jauh-jauh kuliah di Amerika, tapi bicara bahasa Jawa masih lancar.” Saat beliau di Amerika pun, seorang profesor pernah dengan tepat menebak bahwa dosen saya ini adalah asli orang Jawa. “Pelafalan ‘b’ dan ‘d’ yang Anda miliki lebih berat,” jelasnya saat dosen saya bertanya padanya. Sepertinya sebagian besar orang Indonesia tahu, bahwa orang Jawa memiliki kecenderungan pelafalan huruf b dan d yang lebih ‘berat’ atau istilahnya medhok. Beliau pun menjelaskan bahwa bagaimana pun bahasa ibu itu susah untuk dihilangkan.
Bahasa daerah sering terbawa saat sedang berbicara berbahasa asing. Sudah menjadi bahan candaan di kelas, bahwa ada beberapa orang yang masih berkomunikasi dengan JavLish alias Javanesse-English. Jadi ia berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris tapi masih kelihatan medhok-nya. Seorang teman yang berasal dari Madura pun masih kelihatan Madura-nya saat ia sedang berkomunikasi dengan bahasa Inggris.
Beberapa acara di televisi yang mengangkat wajah Indonesia dari sisi keberagaman sukunya, dapat dipastikan akan selalu ada bahasa daerah yang dimiliki di masing-masing daerah. Kalimat “Apa kabar?” mungkin memiliki ratusan padanan yang sama dalam bahasa daerah yang ada di Indonesia. Kalimat sapaan juga memiliki beragam variasi di masing-masing daerah. Tampaknya bahasa daerah itu sendiri dapat dijadikan salah satu kekayaan negeri ini.
Sebagian besar masyarakat Indonesia fasih menggunakan setidaknya dua bahasa dalam berkomunikasi, yaitu bahasa daerah atau bahasa ibu dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Bukankah itu adalah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh orang Indonesia? Sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, meski ada ratusan bahasa daerah yang dimiliki Indonesia, tetap saja kita semua adalah orang Indonesia.
Hhhm, tampaknya cukup menarik jika ada paket wisata yang mengajak para wisatawan domestik atau luar negeri untuk “berwisata bahasa”. Atau mungkin dengan menyediakan sebuah museum bahasa daerah dengan menunjukkan betapa kayanya Indonesia dengan keragaman bahasa daerah yang dimiliki. Saya bangga dengan bahasa daerah saya dan bersyukur menjadi seseorang yang terlahir di Indonesia. Meskipun saya mengambil kuliah di jurusan bahasa Inggris, hal ini lebih karena saya ingin mengembangkan kemampuan bahasa saya. Siapa tahu suatu saat nanti saya bisa mengenalkan bahasa Jawa ke masyarakat dunia khususnya yang terlahir di English speaking countries dengan menggunakan kemampuan bahasa Inggris saya, sambil berkata “Mister, Madame, Mbak-mbak, Mas-mas, monggo mampir dhateng Indonesia. I’ll make sure you’ll be amazed and impressed there!” (Tuan, Nyonya, Mbak, Mas, silahkan datang ke Indonesia. Saya bisa pastikan bahwa Anda akan merasa takjub dan kagum berada di negeri saya).
*tulisan ini pernah diikutkan lomba kompetisi menulis di blog, tapi nggak menang hehe...
“Sewuan, sewuan…,” seru seorang pedagang makanan menjajakan makanannya.
Saat kereta terus melaju ke arah barat, keesokan harinya…
“Saribuan, saribuan…,” pedagang yang lain juga tampak semangat menawarkan dagangannya kepada para penumpang kereta.
Sewuan, saribu, dua kata yang berbeda tetapi memiliki sebuah arti yang sama: seribuan. Pedagang yang berbeda dari dua suku yang berbeda (Jawa dan Sunda) sama-sama menjemput rejeki dengan menjual makanan ringan seharga seribu per satuannya. Mereka menggunakan bahasa daerah masing-masing dalam ‘mempromosikan’ dagangannya.
Di kesempatan yang lain, saat saya baru saja tiba di Bandung, saya merasakan roaming. Orang-orang di sekitar saya menggunakan bahasa Sunda yang sama sekali tidak familiar di telinga saya. Jika biasanya saya disapa dengan panggilan Mbak, kini disapa dengan panggilan Neng. Agak kikuk rasanya, tapi ya mau bagaimana lagi.
Saat saya berkunjung ke Universitas Negeri Jakarta, saya jarang sekali mendengar adanya percakapan dalam bahasa Jawa. Hal ini tentu berbeda sekali dengan yang sering saya dengar di kampus saya, Universitas Negeri Malang, di mana sebagian besar mahasiswanya menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Tentu saja berbeda, ya, hehe.
Saya pernah disangka oleh seorang kawan bahwa saya ini orang Surabaya, ya sebenarnya tidak terlalu meleset juga karena saya asli Malang (cukup 2 jam jaraknya dari Surabaya jika ditempuh dengan bus patas). Tampaknya kawan saya itu menebaknya dengan cara (logat) bicara saya. Ah, belum tahu dia jika di Malang ada juga boso walikan. Setiap kata diucapkan secara terbalik. Misalnya kata “saya” berubah menjadi “ayas”, dan kata “rek” (sapaan antar sesama teman) bisa berubah menjadi “ker”. Yang paling familiar adalah kata “arek Malang” yang berubah menjadi “kera Ngalam”, huruf “e” dalam “kera” diucapkan seperti “e” dalam “bebek”.
Indonesia dengan keberagaman suku dan budayanya tak pernah lepas dari bahasa daerah yang dimiliki di wilayah masing-masing. Salah satu contohnya ada di Jawa Timur. Pulau Madura punya bahasa Madura dan menurut penjelasan seorang kawan asli Pamekasan, bahkan bahasa Madura itu pun bisa berbeda-beda tergantung daerahnya. Di kampus mudah saja menebak seorang kawan itu asli Malang atau bukan dengan mendengar bagaimana ia menyapa teman-temannya. Jika ia menyapa dengan “Rek” maka ia bisa cukup dipastikan berasal dari Malang, tetapi jika menyapa dengan “Cah” (yang berasal dari kata bocah) ada kemungkinan dia berasal dari Blitar atau Kediri.
Bahasa daerah itu sangat unik. Kita bisa menebak seseorang itu berasal darimana dengan mengetahui logat atau dialek bicaranya, seperti seorang kawan yang berasal dari Padang. Meskipun dia sedang (berusaha) bercakap-cakap dengan bahasa Jawa, tetap saja bisa ditebak bahwa dia bukan asli orang Jawa. Saat berada di sebuah forum nasional, seorang peserta pernah protes karena mendengar saya dan kawan saya yang sama-sama asli Malang sedang bercakap-cakap dalam bahasa Jawa khas Malang. “Jangan pakai bahasa planet,” sindirnya dengan nada bercanda yang dimaksudkan agar saya dan kawan saya ini menggunakan bahasa Indonesia saja dalam berkomunikasi.
Pulau Jawa meski memiliki bahasa Jawa sebagai bahasa daerah, tetapi tetap saja ada perbedaan-perbedaan di tiap daerahnya. Di Jawa Timur misalnya, bahasa Suroboyoan cukup dikenal dengan penggunaan bahasa Jawa yang lebih ‘kasar’ dari bahasa Jawa di daerah lain. Bahkan seorang kawan dari Madiun pernah merasa bahwa orang Malang sudah terlalu kasar dalam berbicara, meski Madiun dan Malang sama-sama memiliki bahasa Jawa sebagai bahasa daerah. Sebuah kata dalam bahasa Jawa bisa tidak dipahami oleh orang berbahasa Jawa lainnya. Saya sempat bingung saat seorang kawan menyebut kata “panggah”, dan saya baru ngeh bahwa kata itu berarti “tetep” dalam bahasa yang saya-gunakan-sehari-hari . Panggah=tetep=tetap. Konon, semakin ke barat bahasa Jawa akan semakin halus. Bahasa Jawa arek Malang bisa dipastikan akan berbeda jika dibandingkan dengan cah Solo, misalnya. Orang Yogya mungkin akan beranggapan bahwa orang Surabaya tidak sopan karena berbicara terlalu cepat dan blak-blakan. Sebaliknya, orang Malang bisa beranggapan orang Solo terlalu ‘lamban’ hanya karena cara bicaranya yang pelan. Saya tidak bermaksud untuk mendiskriminasi salah satu pihak, hanya saja saya ingin menunjukkan betapa bahasa daerah di Indonesia itu sangat unik dan menarik untuk dikenal. Ah, saya sendiri pernah kebingungan saat diajak mengobrol dengan ibu seorang teman yang berasal dari Semarang. Entah kenapa meskipun sama-sama menggunakan bahasa Jawa, saya sempat tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh ibu teman saya itu. Sempat bertanya-tanya, “Kenapa saya tidak nyambung, ya?”
Keunikan bahasa daerah yang ada di Indonesia juga sering dijadikan bahan untuk melawak. Contohnya ada pada Sule salah satu pelawak di Opera van Java. Dia begitu ‘berhasil’ mengundang tawa para penonton saat ia berusaha menggunakan bahasa Jawa yang cukup terdengar ‘lucu’ di lidah Sunda-nya. Saat menggelar road show di Malang, hanya dengan dua tiga kata dalam bahasa Jawa yang diucapkannya, sontak semua orang bisa tertawa. Begitu pula saat menggelar road show di Bali atau Semarang. Bahasa daerah memang memiliki sebuah daya tarik tersendiri.
Seorang dosen di kampus saya pernah mendapat guyonan dari seorang kerabatnya. “Sudah jauh-jauh kuliah di Amerika, tapi bicara bahasa Jawa masih lancar.” Saat beliau di Amerika pun, seorang profesor pernah dengan tepat menebak bahwa dosen saya ini adalah asli orang Jawa. “Pelafalan ‘b’ dan ‘d’ yang Anda miliki lebih berat,” jelasnya saat dosen saya bertanya padanya. Sepertinya sebagian besar orang Indonesia tahu, bahwa orang Jawa memiliki kecenderungan pelafalan huruf b dan d yang lebih ‘berat’ atau istilahnya medhok. Beliau pun menjelaskan bahwa bagaimana pun bahasa ibu itu susah untuk dihilangkan.
Bahasa daerah sering terbawa saat sedang berbicara berbahasa asing. Sudah menjadi bahan candaan di kelas, bahwa ada beberapa orang yang masih berkomunikasi dengan JavLish alias Javanesse-English. Jadi ia berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris tapi masih kelihatan medhok-nya. Seorang teman yang berasal dari Madura pun masih kelihatan Madura-nya saat ia sedang berkomunikasi dengan bahasa Inggris.
Beberapa acara di televisi yang mengangkat wajah Indonesia dari sisi keberagaman sukunya, dapat dipastikan akan selalu ada bahasa daerah yang dimiliki di masing-masing daerah. Kalimat “Apa kabar?” mungkin memiliki ratusan padanan yang sama dalam bahasa daerah yang ada di Indonesia. Kalimat sapaan juga memiliki beragam variasi di masing-masing daerah. Tampaknya bahasa daerah itu sendiri dapat dijadikan salah satu kekayaan negeri ini.
Sebagian besar masyarakat Indonesia fasih menggunakan setidaknya dua bahasa dalam berkomunikasi, yaitu bahasa daerah atau bahasa ibu dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Bukankah itu adalah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh orang Indonesia? Sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, meski ada ratusan bahasa daerah yang dimiliki Indonesia, tetap saja kita semua adalah orang Indonesia.
Hhhm, tampaknya cukup menarik jika ada paket wisata yang mengajak para wisatawan domestik atau luar negeri untuk “berwisata bahasa”. Atau mungkin dengan menyediakan sebuah museum bahasa daerah dengan menunjukkan betapa kayanya Indonesia dengan keragaman bahasa daerah yang dimiliki. Saya bangga dengan bahasa daerah saya dan bersyukur menjadi seseorang yang terlahir di Indonesia. Meskipun saya mengambil kuliah di jurusan bahasa Inggris, hal ini lebih karena saya ingin mengembangkan kemampuan bahasa saya. Siapa tahu suatu saat nanti saya bisa mengenalkan bahasa Jawa ke masyarakat dunia khususnya yang terlahir di English speaking countries dengan menggunakan kemampuan bahasa Inggris saya, sambil berkata “Mister, Madame, Mbak-mbak, Mas-mas, monggo mampir dhateng Indonesia. I’ll make sure you’ll be amazed and impressed there!” (Tuan, Nyonya, Mbak, Mas, silahkan datang ke Indonesia. Saya bisa pastikan bahwa Anda akan merasa takjub dan kagum berada di negeri saya).
*tulisan ini pernah diikutkan lomba kompetisi menulis di blog, tapi nggak menang hehe...
The Invisible Chain
Pause.
Where were you?
Where are you now?
Where will you be then?
Everyone is living through an invisible chain.
They related to each other.
We are walking through the invisible change.
There is no doubt, everything may happen for at least a reason.
There is nothing happen so coincidentally.
We are pulled and pushed into something in every second.
The invisible chain was created by the owner of invisible hands.
May He always watch over us. Every second. Every moment.
Where were you?
Where are you now?
Where will you be then?
Everyone is living through an invisible chain.
They related to each other.
We are walking through the invisible change.
There is no doubt, everything may happen for at least a reason.
There is nothing happen so coincidentally.
We are pulled and pushed into something in every second.
The invisible chain was created by the owner of invisible hands.
May He always watch over us. Every second. Every moment.
Minggu, Agustus 28, 2011
Quote to Shout #3
When you've got a secret
Then you've got to keep it
When you've got a question
Answers will come
[Sleeping Sun, Coldplay]
Langganan:
Postingan (Atom)





