Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 01, 2012

Membentang Keelokan Tepian Kapuas



            Judul              : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
            Penulis            : Tere Liye
            Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
            Cetakan          : Kedua, Februari 2012
            Tebal              : 512 halaman
            ISBN               : 978-979-22-7913-9

            Kita bisa melihat Sungai Kapuas setidaknya dengan dua kisah yang berbeda. Pertama, sungai dengan kisah bencana sepanjang tahun. Di musim kemarau, sungai mengering hingga berubah menjadi seperti lapangan yang berdebu. Anak-anak kecil bahkan bisa bermain bola di sana. Penduduk pun kekurangan air bersih. Sebaliknya, saat musim penghujan datang, air di Sungai Kapuas bisa meluap. Kedua, sungai dengan kisah cinta. Terlihat beberapa sepit sudah berjejer rapi di dermaga kayu setiap paginya. Di urutan ke-13, tampak Borno yang setia menunggu seorang gadis menumpang di sepitnya tepat pukul 07.15.

“Kalian tahu, cinta sejati laksana sungai besar. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin lama semakin besar sungainya, karena semakin lama semakin banyak anak sungai perasaan yang bertemu.” (hal. 167-168)

Borno pernah bertanya pada Koh Acong, Cik Tulani, dan Pak Tua tentang panjang Sungai Kapuas. Bukannya langsung mendapatkan jawaban yang pasti, ia malah diomeli dan ditertawakan. Hidup di kota Pontianak yang sekaligus menyimpan misteri tentang asal-usul namanya ini, tak pernah lepas dengan kehidupan masyarakatnya di tepian Sungai Kapuas. Hampir semua kegiatan dan kehidupan masyarakatnya berpusat di sana. Sayangnya,  baru-baru ini terdengar kabar buruk bahwa Sungai Kapuas sempat tercempar dengan tumpahnya minyak sawit. Namun, sekarang kita akan menikmati sisi lain tentang Sungai Kapuas melalui kisah cinta dari seorang pemuda bernama Borno di Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.

 Seperti beberapa pemuda Indonesia yang bernasib kurang beruntung, Borno tak bisa melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Rencananya untuk bisa kuliah sambil bekerja tak bisa terlaksana. Selepas SMA, ia bekerja di sebuah pabrik pengolahan karet. Setelah bekerja selama enam bulan, ia dipecat bersama beberapa karyawan lain. Sejak saat itu ia mendapatkan pekerjaan baru sebagai penjaga palang masuk di dermaga feri.

“Sepanjang kau mau bekerja, kau tidak bisa disebut pengangguran. Ada banyak anak muda berpendidikan di negeri ini yang lebih senang menganggur dibandingkan bekerja seadanya. Gengsi, dipikirnya tidak pantas dengan ijazah yang dia punya. Itulah kenapa angka pengangguran kita tinggi sekali, padahal tanah dan air terbentang luas.” (hal. 49)

Saat tahu bahwa Borno bekerja di dermaga feri, sontak Bang Togar yang sekaligus menjabat sebagai ketua Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta geram. Ia tak rela melihat Borno bekerja di pelampung (sebutan untuk kapal feri). Bahkan, Bang Togar melaminating dan menempel foto Borno besar-besar di dermaga kayu. Borno diboikot, ia tak boleh naik sepit hingga berhenti bekerja di pelampung.

“Kau anak tidak tahu diuntung, Borno! Tiga turunan! Tiga turunan pelampung itu menghabisi kehidupan kita!” (hal. 34)

Di usianya yang ke-12, Borno tinggal hanya bersama ibunya. Bapaknya yang merupakan seorang nelayan meninggal karena tersengat ubur-ubur. Borno sangat sedih saat itu. Tidak hanya ia harus menerima kenyataan bahwa ia menjadi anak yatim tetapi juga ia merasa ada perampasan hak kehidupan yang seharusnya masih bisa didapatkan oleh Bapaknya. Tepatnya sepuluh tahun yang lalu, Borno duduk di lorong RSUD Pontianak menangis terisak. Ia tak rela dada Bapaknya dibelah, ia tak rela.
Sejak aksi pemboikotan yang dilakukan oleh Bang Togar itu, Borno akhirnya berhenti bekerja di dermaga feri. Ia pun bekerja serabutan, menjadi petugas SPBU terapung, membantu Cik Tulani dan Koh Acong, hingga mencari kucing hilang. Kemudian, pada suatu malam, sebuah keputusan dibuat. Borno akan menjadi pengemudi sepit.
Mendapatkan pekerjaan baru sebagai pengemudi sepit tidaklah mulus. Tiga hari lamanya Borno harus rela diplonco Bang Togar. Pak Tua hanya bisa menghiburnya agar tidak mengambil hati sikap Bang Togar. Andi, sahabat Borno, hanya bisa mendengus mengetahui sikap Bang Togar pada Borno. Andi malah berniat untuk langsung mendorong Bang Togar jatuh ke Kapuas jika dirinya yang diperlakukan seperti itu.
Bagi penduduk Pontianak, segala aspek kehidupan mereka tak pernah bisa dilepaskan dari Sungai Kapuas. Penduduk sekitar terbiasa beraktivitas dengan sebuah perahu kayu panjang bermesin tempel bernama sepit. Keberadaan dermaga feri memang mengancam kehidupan para pengemudi sepit. Meskipun begitu, para pengemudi sepit tetap dengan setia mengantre di dermaga kayu setiap pagi. Mereka dengan tertib menunggu giliran menaikkan penumpang yang diatur oleh seorang petugas timer. Pak Tua adalah salah satunya.
Apa cinta sejati itu? Itulah pertanyaan terbesar Borno. Di tengah segala permasalahan dan kegundahan hati Borno, penulis menghadirkan sosok Pak Tua. Pak Tua bagaikan sebuah mata air yang bisa menyejukkan hati siapa saja yang  berada di dekatnya. Pengalaman Pak Tua mengelilingi hampir separuh dunia menjadikannya sebagai sosok yang kaya akan pengalaman berharga. Hanya pengalaman-pengalaman hebat dan besar lah yang membuat seorang manusia menjadi makhluk yang paling bijak. Borno dan Andi pun sering menghabiskan malam bersama Pak Tua.
Di suatu malam, sebuah kisah cinta tentang Fulan dan Fulani yang dibalut dengan latar sejarah Indonesia diceritakan oleh Pak Tua. Secara tidak langsung, kita juga digiring untuk mengingat beberapa kilasan sejarah penting di negeri ini, seperti perang di Surabaya, pemberontakan G-30S/PKI, peristiwa Malari 1974, dan krisis 1998. Penulis melalui Pak Tua membuka mata kita tentang keindahan hakiki dari sebuah kisah cinta. Pak Tua menuturkan bahwa kisah Fulan dan Fulani bukanlah cinta gombal, melainkan cinta yang diwujudkan melalui perbuatan (hal. 174).
Siapa sangka di hari pertama Borno menjadi pengemudi sepit malah menjadi hari yang paling bersejarah di hidupnya. Salah satu penumpang sepitnya saat itu adalah seorang gadis berbaju kurung kuning yang langsung membuat Borno terpesona. Gadis itu meninggalkan sebuah angpau merah. Dari sinilah kisah cinta Borno bermula.

“... Tapi aku akan membiarkan kau sendiri yang menemukan kalimat bijak itu. Kau sendiri yang akan menulis cerita hebat itu. Untuk orang-orang seperti kau, yang jujur atas kehidupan, bekerja keras, dan sederhana, definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang amat berbeda, amat menakjubkan.” (hal. 175)

Borno jatuh cinta. Ia harus mengumpulkan keberanian ekstra hanya untuk menanyakan nama sang gadis. Berkali-kali ia meminta nasihat Pak Tua. Tak jarang, ia meminta saran pada Andi. Bahkan, Bang Togar memberikan tips kencan secara cuma-cuma. Saat Borno tahu bahwa gadis itu bernama Mei, ia malah membuatnya tersinggung. Kunjungan ke Surabaya dan Kuching pun semakin melekatkan bayangan Mei di pikiran Borno.
Novel yang memiliki versi asli cerita lebih panjang dengan judul Kau, Aku, dan Kota Kita ini memiliki tokoh-tokoh sederhana dengan lika-liku kehidupannya masing-masing. Penulis seperti mengajak kita untuk menebak-nebak masa lalu Pak Tua yang hingga kini malah memutuskan untuk membujang dan menetap kembali di Pontianak. Penulis pun membawa kita ikut menyibak kisah cinta Bang Togar yang cukup mengharukan. Tak lupa, perjuangan Borno untuk mencari kejelasan perasaan dan kenyaatan pada Mei.

“Maafkan aku, Abang. Kita hanya akan saling menyakiti jika terus bertemu. Aku sungguh tidak mau membuat Abang sedih.” (hal. 470)

Membuka halaman demi halaman novel ini semakin membawa kita melihat rona indah kehidupan di sepanjang Sungai Kapuas. Penduduk Pontianak yang berasal dari Melayu, Dayak, dan Cina bisa hidup damai berdampingan dengan hadirnya tokoh Koh Acong, Cik Tulani, Pak Tua, dan Bang Togar. Jika kita disuguhi pemandangan tepian Kapuas dengan meminjam kacamata penulis, kita akan disuguhi banyak hal yang bisa membuat kita tergelak. Saat pagi tiba, kita bisa melihat Pak Sihol kesal saat sabunnya hanyut karena laju sepit yang dikemudikan Borno; dermaga kayu yang dijajari sepit yang menunggu giliran; teriakan petugas timer; gerakan senam pagi yang dipimpin oleh Bang Togar dengan iringan musik SKJ; keriuhan yang semakin memanas di lomba balap sepit; hingga melihat Borno mengemudikan sepitnya dengan lambat mengantar Mei selama 15 menit membelah Sungai Kapuas setiap paginya.
Jika malam tiba, kita bisa seolah ikut asyik menyantap gulai kepala kakap bersama Borno dan Pak Tua sembari menatap malam yang indah di tepian Kapuas. Dengan diterangi cahaya bulan di malam ketiga belas, penulis seperti menyulap kita menjadi sosok anonim yang ikut duduk mendengar kisah-kisah tentang cinta dan kehidupan yang dituturkan oleh Pak Tua. Menurut Pak Tua, cinta sejati adalah perjalanan yang tak memiliki ujung seperti siklus air. Ia berkata bahwa Sungai Kapuas jauh lebih abadi dibanding sebuah kisah cinta gombal manusia. Jarak dan waktu bisa langsung memutuskan sebuah kisah cinta gombal. Sebaliknya, selama ribuan tahun Sungai Kapuas masih tetap berada di Pontianak meskipun airnya semakin keruh (hal. 168).
Meskipun novel ini membahas tentang romantisme di tepian Kapuas, penulis juga menyelipkan beberapa hal agar kita lebih peduli dengan kelangsungan hidup di Sungai Kapuas melalui narasi dan dialognya. Seperti, demo soal lingkungan hidup (hal. 22), pendangkalan sungai (hal. 244), dan illegal loging (hal. 177). Topik-topik tersebut dihadirkan secara singkat dengan tetap menjadi pelengkap alur cerita yang manis.
Borno memang pantas dijuluki sebagai pemuda dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas. Meskipun ia dibuat kalut dengan sebuah perasaan yang diawali oleh sepucuk angpau merah itu, ia merasa sudah sangat beruntung memiliki Andi, Bang Togar, Cik Tulani, Koh Acong, dan yang sudah dianggapnya sebagai bapak sendiri, Pak Tua (hal. 478). Masa lalu dan masa kini juga saling mengait di kehidupannya terlebih saat Sarah hadir di dalamnya. Kehidupannya sederhana. Ia seorang pemuda biasa—lulusan SMA, pengemudi sepit hingga menjadi montir—yang dibuat galau karena cinta. Namun, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari caranya menerima, menghadapi, dan menjalani hidup di tepian Sungai Kapuas. Tere Liye memang selalu berhasil mengeluarkan kilau dari sebuah mutiara kesederhanaan di setiap kisah yang ditulisnya, termasuk dalam Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.

*resensi ini ditulis dalam rangka mengikuti lomba menulis resensi Gramedia Pustaka Utama. pertama kalinya nulis resensi secara "serius" dan panjang, it's kinda fun :)

Jumat, April 13, 2012

Dapet Buku Gratis!

Karena rutinitas kerja harian adalah duduk di depan monitor dan bikin tulisan (dengan modal utama Google), jadilah selalu nggak bisa lepas sama internet. Nggak bisa lepas sama internet artinya juga selalu nempel sama Twitter dan Facebook. Kalau Facebook hanya sesekali diintip lalu di close, kalau Twitter lebih sering diintip apalagi kalau ada hal-hal baru.

Dan barusan pas lagi ngecek update-an Twitter mas Ariy (@ariysoc) penulis buku perjalanan: Rp2 Jt-an Keliling China Selatan, Rp 1Jt-an Keliling Thailand. Travelicious Series: Yogya & Solo, Jatim & Madura, Medan, ngadain kuis buat ngedapetin buku Travelicious Medan

"caranya gampang.Ceritakan apa yg menginspirasi kamu buat traveling? pake hashtag .Ditunggu smp 13.30 yak"

Dan, iseng-isenglah aku ikutan. Dengan jawaban...

"cari lebih bnyk lg pelajaran hidup & nemuin jodoh yg mgkin jg sama-sama suka keluyuran traveling hehe :)

Beberapa menit kemudian, muncul twit...
selamat ya..kamu dpt gratis. DM nama dan alamat lengkap yak. Buat yg blm beruntung, makasih partisipasinya :)

Huwooo...dapet buku gratisan, buku traveling lagi, asiiiik...eh, alhamdulillah :)
alhamdulillah :) akhirnya bs dpt gratis. DM segera diluncurkan, sukses selalu! *asik...asik...*

Karena selama ini agak susah kalau pakai alamat rumah sendiri, jadi aku numpang pakai alamat temen. 
DM sent!

Ouwch, nggak sabar bisa ngedapetin buku baru (dan gratis pula!) :)


Minggu, April 01, 2012

Investasi Kehidupan

Alhamdulillah, masih ada 'sisa' gaji yang bisa dibelanjakan buat beli buku.
Heu...bingung juga buku apa yang mau dibeli, saking banyaknya yang pengen dibeli.

akhirnya yang kebeli adalah "mereka"

my bookshelf (a half of it)
Pas bayar di kasir, eh dapet dua voucher 25.000 buat pembelian "Fancy & Gift" minimal 100ribu. Hmm, berhubung saat itu sudah tak ada uang tersisa (setelah 'kalap' beli buku), jadi vouchernya aku bawa pulang dan kukasih ke ibu, hehe...

Yups, demi menghilangkan kegalauan, buku-buku itu 'kan kulahap.
Selalu saja dengan alasan: "sebagai investasi kehidupan" di saat diri ini sudah tak terkontrol lagi membeli banyak buku, hehe (dan meludeskan semua sisa gaji dalam sekejap).

Kamis, Desember 15, 2011

Sekilas Tentang Creative Writhink

Hmm, mau sharing tentang creative writhink bareng Fahd Djibran seminggu yang lalu di Pameran Buku Bandung aja deh. Seminggu yang lalu sempet ikutan di acara temu penulis dan sekilas tentang creative writhink dari jam setengah 8 malem sampe jam 8 malem-an.

Writhink: menulis kreatif dengan berpikir kreatif. Jadi, nggak sekedar menulis tapi juga berpikir secara kreatif saat proses penulisan itu sendiri.

Menulis itu menyampaikan gagasan dengan kata-kata yang tepat, jadi ada kombinasi sempurna di dalam kata-kata dan pikiran.

"I'm not a good writer, I'm a good re-writer," kata Fahd Djibran. Kadang yang kita tuliskan adalah hal yang sama yang pernah ditulis oleh orang lain tetapi dengan cara/gaya yang berbeda. 

Tulisan yang baik itu mencakup 4 hal:
-content
-context
-coherence
-color
Dalam sebuah tulisan yang bagus itu ada satu pesan besar yang disampaikan dan bagaimana pesan itu didukung dengan info-info lainnya. Juga, harus dicermati tentang ke mana dan di mana tulisan itu akan "berada" terkait siapa pembacanya dan di media mana tulisan itu diterbitkan. Dan yang penting juga ada kekhasan dalam tulisan itu sendiri; ada cara/pendekatan dari pikiran kita sendiri.

Fahd Djibran juga mulai mempopulerkan fiksi lintas media. Sampai ada sebuah mimpi kalau nantinya yang ada di pameran itu bukan hanya lukisan/gambar, tetapi kata-kata, trus juga yang ada di konser bukan hanya lagu/musik tapi kata-kata.

*maaf, kalau informasinya choppy soalnya yang ditulis (eh diketik) di hape waktu ikut acara cuma berupa frase-frase singkat hehe.

Di akhir acara ditampilkan sebuah video revolvere project (bisa diliat di youtube tapi aku lupa link-nya), penggabungan antara narasi cerita dengan sebuah lagu. Karena aku udah mengunduh videonya, jadi aku udah nggak terlalu merhatiin lagi. Eh, malah sempet ngeliatin yang jadi fotografer pas acara itu, manis sih orangnya hehe [I just love seeing a guy who has dimples in his cheeks], pengen aku candid difoto pake kamera hape tapi nggak enak juga kalau ketauan, jadi ya cuman diliatin doang [haha, ngga' penting].

Rabu, Agustus 24, 2011

[Rahim (Sebuah Dongeng Kehidupan)]

Judul: Rahim (Sebuah Dongeng Kehidupan)
Penulis: Fahd Djibran
Penyunting: Nita Taufik
gambar diambil dari sini

“Asal kau tahu, Rahim adalah nama lain dari Raja Semesta.”

Novel ini bercerita tentang seseorang yang menjalani hari-harinya selama sembilan bulan di rahim suci ibunya. Perjalanan dari hari ke hari selama sembilan bulan yang dialami oleh Tuan Bayi Berkepala Botak di rahim ibunya. Bertemu dengan beberapa "makhluk" dan belajar mengenai kehidupan yang akan dijalani saat ia lahir ke dunia (meskipun ia akan lupa segala yang terjadi di dalam rahim, saat ia sudah terlahir ke dunia kelak).

"Pada mulanya segala sesuatu adalah niat. Semacam benih yang tumbuh dari hatimu. Pada saat seseorang berniat melakukan hal yang baik dan berniat menjauhi hal buruk; itu sudah satu kebaikan. Pada saat mereka membiarkan diri mereka menimbang niat itu dengan kebebasan yang mereka miliki--menggunakan akal pikiran mereka, perasaan mereka, dan seterusnya--kemudian tahu dan mengerti bahwa yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk; itu dua kebaikan. Dan pada saat mereka melakukannya, mengerjakan hal yang baik dan menolak hal yang buruk; itu kebaikan yang bahkan lebih besar daripada seisi semesta!" (hal. 219)

[Yang Galau, Yang Meracau] Curhat (Tuan) Setan


Judul: Yang Galau, Yang Meracau Curhat (Tuan) Setan
Penulis: Fahd Djibran
Penyunting: Boo & Nita Taufik
gambar diambil dari sini

Setan. Cinta. Tuhan. Ketiganya adalah tiga medan galau sekaligus racau yang ada dalam buku ini. Menuntun kita untuk berbicara pada diri sendiri. Membawa kita masuk ke dalam pikiran kita sendiri; meracau kepada diri sendiri; mengaduk-aduk kegalauan yang berputar-putar dalam kepala; berpusing dengan kata-kata.

Kali ini aku hanya memberikan sedikit racauan pada beberapa cuplikan tulisan yang ada di dalam buku  ini.

"Kesempurnaan adalah ketiadaan sekaligus keberadaan, kebahagiaan sekaligus kesedihan, hitam sekaligus putih... Kesempurnaan adalah konfigurasi apik dari berbagai hal yang berlawanan." (hal. 43)

Selasa, Agustus 23, 2011

Mengingat (secara singkat) Karya Mitch Albom

Awal suka dengan novel karya Mitch Albom, karena waktu itu ada sebuah resensi di koran yang membahas tentang Tuesdays with Morrie. Membaca resensi itu membuatku tertarik untuk bisa membaca novelnya secara langsung. Hup, akhirnya ketemu juga di perpustakaan kota Malang. Sejak saat itu aku jadi cukup mengikuti karya-karyanya, seperti The Five People You Meet in Heaven, For One More Day, dan Have a Little Faith. Apalagi waktu kuliah di mata kuliah Prose juga pernah membahas The Five People You Meet in Heaven sampai mabok. Hehe...

Tema yang diangkat di dalam novel-novelnya juga cukup universal, sehingga bisa diterima dengan baik oleh banyak kalangan. Kehidupan. Kasih sayang. Cinta. Keyakinan. Impian. Masa lalu. Masa depan.

[A Thousand Splendid Suns]

gambar diambil dari sini
Judul: A Thousand Splendid Suns
Penulis: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Andhy Romdani
Proofreader: M. Eka Mustamar

Mariam dan Laila ada dua perempuan yang berbeda hingga akhirnya terkait satu sama lain. Mariam adalah seorang anak haram dan ketika ibunya meninggal karena bunuh diri, Mariam akhirnya dinikahkan dengan Rasheed. Rasheed adalah seorang duda berusia 40 tahun. Pada awalnya Rasheed memanjakan Mariam apalagi saat diketahui bahwa Mariam  mulai hamil. Namun, saat Mariam mengalami keguguran, perilaku Rasheed semakin kasar pada Mariam. Kehidupan rumah tangga mereka pun tak berjalan harmonis lagi.

[The Kite Runner]

gambar diambil dari sini
Judul: The Kite Runner
Penulis: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Pengestuningsih
Proofreader: Herlina Sitorus

"Kau ingin aku mengejar layang-layang itu untukmu?" Jakunnya naik dan turun saat dia menelan ludah. Angin membelai rambutnya. Kurasa aku melihat anggukannya.
"Untukmu, keseribu kalinya," kudengar aku mengatakannya. (hal. 489)

"Ada jalan untuk menuju kebaikan." (hal. 14)

Amir dan Hassan menghabiskan masa kanak-kanaknya bersama. Amir tinggal bersama Babanya sementara Hassan tinggal bersama Ali (pembantu keluarga Amir). Persahabatan antara keduanya terjalin erat. Amir, seorang bocah Pashtun yang kaya sedangkan Hassan adalah seorang bocah Hazara yang sering dilecehkan oleh teman-temannya.

Senin, Agustus 22, 2011

[To Kill a Mockingbird]

Judul: To Kill a Mockingbird
Pengarang: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penyunting: Berliani Mantili Nugrahani

 

Atticus Finch adalah seorang pengacara sekaligus ayah dari seorang gadis berusia delapan tahun, Scout. Scout memiliki seorang kakak yang  berusia empat tahun lebih tua darinya, Jem. Kehidupan Scout dan Jem berubah saat ayah mereka membela seorang kulit  hitam. Beragam kecaman datang dari penjuru kota karena Atticus membela seseorang yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Scout sudah mulai banyak belajar mengenai kehidupan sejak kanak-kanak.

"...kau tak akan pernah mengenal seseorang sampai kau berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya." (529-530)

Senin, Agustus 15, 2011

Kalap Lagi

Mulai bosen. Mulai jenuh. Jadi, pergi ke toko buku.
Niatnya cuma mau beli Madre sama Ayah (bukan) Pembohong, tapi jadinya malah...


...beli Nasional.is.me, Psikologi Beragama, Berdamai dengan Kematian, dan 29 1/2 hari juga. Bagus!
Ibu, maaf...uang yang ibu berikan aku boroskan untuk buku-buku ini.
"Mereka" pun kini jadi penghuni baru di rak buku ini.


Enjoy reading (after watching Korea drama first, haish!) XD